Rabu, 12 November 2008

Ancaman Maut dari Belantara Afrika


Setelah HIV, dari belantara hitam Afrika. Muncul lagi virus mengerikan “Ebola”. Meski ditengarai belum sampai merebak keluar Zaire, tak urung virus itu membuat pejabat kesehatan dunia kalimpungan. Sebab, meski yang diserang bukan sistem kekebalan tubuh seperti virus AIDS, virus Ebola mampu membunuh pengidapnya hanya dalam beberapa minggu saja. Setelah virus menyusup, pada akhirnya darah penderita akan bocor dimana-mana, didalam dan luar tubuh. Betapa mengerikan!!

Seorang biarawati Froralba Rondi, 71 tahun tergeletak di sebuah rumah sakit di kota Kikwit, Zaire. Biarawati itu menderita demam disertai sakit perut hebat sampai tak sadarkan diri. Untuk menyelamatkan nyawanya para doktermemutuskan untuk melakukan operasi. Akan tetapi seusai operasi wanita itu hanya bertahan hidup beberapa hari.

Peristiwa ini terjadi di Klikwit, Zaire. Kota berpenduduk sekitar seratus ribu orang itu terletak 400 kilometerbagian timur ibu kota Zaire, Kinshasa. Belakangan baru diketahui, biarawati tadi merupakan satu-satunya orang yang masih hidup dari sebuah desa terpencil yang terkena wabah penyakit ganas di Klikwit.


Tragisnya dalam selang waktu yang tidak lama, semua anggota tim medis yang melakukan operasi terhadap biarawati tadi juga meninggal. Mereka meninggal akibat pendarahan dalam yang disertai demam hebat, tidak jauh berbeda dengan pasien yang mereka operasi sebelumnya. Majalah mingguan Jerman der spiegel menyebutkan satu-satunya dokter bedah yang selamat dari petaka ini adalah dokter yang ketika operasi itu dilakukan sedang tidak berada di tempat.


Rondi yang asal Bergamo itu sudah 43 tahun mengabdikan diri di berbagai kawasan pedalaman Zaire. Sebelum meninggal, ia memang pernah merwat penduduk setempat yang ditengarai sedang mengidap penyakit yang sama.


Beberapa hari kemudian, biarawati Clarangela Ghilardi, 64 tahun menyusulnya ke alam baka. Ketika biarawati Floralba dioperasi, Ghilardi yang merawatnya. Akan tetapi selain merawat sahabatnya, ketiaka itu Ghilardi juga harus bertanggung jawab terhadap 350 pasien lain yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.

Ketika wabah ini telah merenggut beberapa korban jiwa, par petugas di rumah sakit di Klikwitmasih tenang-tenang saja. Mereka juga belum menemukan diagnosa yang tepat. Pada umumnya para dokter mendiagnosa pasien ini tengah terkena wabah malaria, tifus, atau kolera.


Para korban yang meninggal memiliki gejala yang sama. Yakni demam yang hebat disertai muntah cairan empedu dan darah, berak darah, bahkan pendarahan pada mata dan hidung serta batu-batuk darah. Mereka mengalami pendarahan dari dalam. Pada umumnya pasien yang sudah mencapai stadium ini sudah tidak mungkin tertolong lagi.

Tidak ada komentar: